Sabtu, 21 September 2013

Orang Indonesia Yang Pertama Kali Naik Haji

Dalam sejarahnya, perjalanan menuju Makkah dari daerah-daerah di Nusantara membutuhkan waktu hingga dua tahun lebih karena kapal-kapal masih sederhana. Perjalanan menuju tanah suci saja memakan waktu sampai enam bulan. Bukan main. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan para jemaah haji. Itu pun masih ada persoalan lain, keamanan. Jalanan belum tentu aman. Kafilah haji selalu harus waspada akan kemungkinan serangan para bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci karena kehabisan bekal atau terkena sakit.

Orang Indonesia Yang Pertama Kali Naik Haji


Kebanyakan dari mereka yang sakit yang tak bisa meneruskan ke Mekah atau yang meninggal ditinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal. Persinggahan kapal antara lain Malaysia (termasuk Singapura), beberapa kota di India hingga Jibuti dan Yaman. Sebagian mereka ada yang kemudian tinggal dan beranak pinak di sini.

Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mudah dimengerti bila kaum muslimin yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat sekembalinya ke negeri asalnya. Merekapun kemudian mendapat gelar “haji”, sebuah gelar yang umum disandang para hujjaj yang tinggal di negara-negara yang jauh dari Baitullah seperti Pakistan, Indonesia dan Malaysia, tapi gelar ini tidak populer di negara-negara Arab yang dekat dengan tanah suci.

Sejak kapan kaum muslimin Indonesia mulai menunaikan ibadah haji? Yang jelas kesadaran untuk menunaikan ibadah haji telah tertanam dalam diri setiap muslim Indonesia generasi pertama semenjak para juru dakwah penyebar agama yang datang ke nusantara memperkenalkan agama Islam.

Prof. Dadan Wildan Anas menyebutkan dalam naskah Carita Parahiyangan, dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371). Ia menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat yaitu peperangan antara Pajajaran dengan Majapahit.

Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar dan sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, bahkan sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa.

Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun kakaknya pun menolak.

Naskah kuno selain Carita Parahyangan yang mengisahkan orang-orang jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji adalah Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon. Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lain yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.

Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Syekh Datuk Kahpi, Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah -diduga antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa- untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam.

Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah,dan berputra dua orang yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji, Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Sementara dari kesultanan Banten, jemaah haji yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain.

Kerajaan Atjeh dan Johor Malaysia juga mencatat perjalanan haji di abad 16 dan 17 yang begitu sulit. Demikian juga di Banten. Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji.

Menurut naskah Sajarah Banten diceritakan suatu ketika Sultan Banten berniat mengirimkan utusannya kepada Sultan Mekah. Utusan itu dipimpin oleh Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar, yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang sehingga terpaksa sering pindah kapal.

Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara. Dari tanah Jawa terlebih dahulu harus menuju Aceh atau serambi Mekah,pelabuhan terakhir di nusantara yang menuju Mekah. di sana mereka menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman, atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu enam bulan atau lebih. SewaktuPerang Dunia Pertama berkecamuk, jemaah haji hanya sampai di Pelabuhan Aden, Yaman dan melanjutkan dengan unta ke Mekah. Hal ini dialami Mantan Ketua Umum MUI Pusat KH Syukri Gozali.

Syaikh Yusuf Tajul Khalwati Makassar yang pernah membela Banten memerangi penjajah juga memanfaatkan naik haji sambil berguru kepada Syaikh Nuruddin Arraniri yang kala itu menjadi Mufti di Aceh. Sayangnya, ketika Syaikh Yusuf sampai di Aceh ternyata Syaikh Arraniri sudah pergi ke Yaman dengan kapal. Syaikh Yusuf mengejarnya dengan kapal berikutnya dan terus melanjutkan hingga haji.

Di perjalanan, para musafir berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Musafir yang sampai ke tanah Arab pun belum aman. Pada masa awal perjalanan haji, tidak mengherankan apabila calon jemaah dilepas kepergiannya dengan derai air mata; karena khawatir mereka tidak akan kembali lagi. Sebelum meninggalkan tanah air mereka meninggalkan wasiat. Kepergiannya juga dihantar dengan azan dan iqamat.

Demikian beberapa catatan tentang kaum muslimin Nusantara jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut nampaknya ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit, yaitu kalangan istana atau keluarga kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman itu- perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji namun tidak tercatat dalam sejarah.

Haji juga media pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan. Banyak jemaah haji yang memanfaatkan waktu selama di Mekah dan Madinah untuk belajar agama Islam. Komunikasi dan transportasi yang sulit membuat jemaah haji memanfaatkan betul eksempatan berhaji itu untuk menguatkan iman dan menambah pengetahuan agama mereka. Syaikh Ahmad Qusyairi bin Siddiq dari Pasuruan, Jawa Timur, misalnya, menyempatkan menghafal Al-Quran 30 juz selama di Mekah dan menulis beberapa kitab dalam bahasa Arab.

Sekarang perjalanan haji tidak sesulit zaman dulu. Pemerintah sudah berupaya mempermudah perjalanan haji dan memberikan pelayanan sebaik -baiknya bagi kaum muslimin yang ingin menunaikannya. Namun, sayangnya, fasilitas di Arab Saudi terbatas sehingga jemaah haji harus dibatasi. Inilah persoalan, ketika umat Islam sudah mencapai 1,6 miliar jiwa.